93 Warga Gunungkidul Positif Antraks Usai Konsumsi Sapi Mati

Kalcer 06 Juli 2023 • 14:07

Editor: Lulu Azizah

cover
Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul

Lagi rame banget nih guys soal wabah antraks yang terjadi di Dusun Jati, Candirejo, Semanu, Gunungkidul. Kabarnya, ada 93 warga di dusun tersebut yang positif terkena wabah antraks setelah mengonsumsi daging sapi mati yang sudah dikubur.

Hingga saat ini, dilaporkan ada tiga warga setempat yang meninggal dunia dengan status positif antraks. OMG~

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Gunungkidul Wibawa Wulandari mengatakan, warga disana memang mengonsumsi beberapa sapi sakit yang mati. Bahkan, sapi yang telah dikubur kemudian digali lagi juga ikut dikonsumsi warga guys.

Padahal, sapi-sapi yang terpapar penyakit dan mati itu udah dikubur sesuai SOP. Tapi, sama warga setempat digali lagi untuk kemudian disembelih dan dikonsumsi. Duh ilah~

Baca juga: 5 Rekomendasi Hotel Murah di Jakarta, Bisa Netflix dan Gak Ngabisin Gaji

warga gunungkidul antraks

"Sapi sakit mati, kemudian suruh kubur melalui SOP sudah kita kuburkan tapi sama masyarakat ada yang 1 (sapi) digali lagi dikonsumsi," kata Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Gunungkidul Wibawa Wulandari. 

Wah…. pantesan aja inimah~

"Sudah mati terus dipotong. Ketahuan karena ada warga yang sakit lapor ke kita, lalu kita surveilans," tambah Wibawa Wulandari. 

Kabid Kesehatan Hewan (DPKH) Gunungkidul Retno Widyastuti juga mengatakan ada 6 sapi dan 6 kambing yang positif terkena wabah antraks dan mati di dusun itu. 

Karena bangkai sapinya udah enggak ada, akhirnya pihak Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) menggunakan sampel tanah untuk di uji di laboratorium. 

warga gunungkidul antraks

Istimewa

"Yang kita periksakan ke lab itu bukan darahnya, bukan dagingnya, tapi tanah yang terkontaminasi darah saat disembelih," kata Retno. 

Untuk mencegah wabah antraks menyebar makin luas ke hewan ternak lainnya, pihak Dinas Kesehatan Hewan setempat  menyiram formalin lagi ke tanah yang terkontaminasi. Sebelumnya, tindakan ini udah pernah dilakukan pada 3 Juni lalu. 

Selain itu, Dinas Kesehatan Hewan juga melakukan penyuntikan antibiotik pada semua ternak yang masih sehat dan hewan-hewan tersebut enggak diperkenankan keluar dari dusun. 

Baca juga: A to Z: Penyebab Kerusuhan di Prancis Buntut Penembakan Remaja 17 Tahun


Ada kaitannya dengan tradisi mbrandu

warga gunungkidul antraks

Wabah antraks yang terjadi di Gunungkidul ini katanya ada hubungannya dengan tradisi desa setempat yang disebut mbrandu. Sebuah tradisi menyembelih hewan yang sakin atau bahkan mati. 

Wakil Bupati Gunungkidul Heri Susanto menghimbau warga untuk menghentikan tradisi mbrandu dan menghentikan konsumsi daging ternak yang mati karena sakit. 

"Kepada warga masyarakat yang memiliki ternak terutama kalau sudah ada sakit itu ya jangan disembelih jangan dikonsumsi. Apalagi kalau sudah meninggal masih di-mbrandu bahasanya kalau di Gunungkidul mbrandu," kata Wakil Bupati Gunungkidul Heri Susanto, dikutip dari Kumparan.com

Pemkab Gunungkidul bilang kalo pihaknya sebelumnya udah melakukan sosialisasi secara tegas ke masyarakat agar enggak mengonsumsi ternak yang sakit. 

"Ternak yang sudah berpotensi sakit atau terpapar penyakit atau bahkan sudah mati jangan dikonsumsi," kata Wakil Bupati Gunungkidul. 

Jadi, penyebab terjadinya wabah antraks di Gunungkidul itu karena warga di sana yang memiliki kebiasaan mengonsumsi daging sapi yang sakit bahkan mati guys. 

 

Nikmati "satu aplikasi, beragam hiburan terkini" mulai dari berita, kuis, video, dan artikel rekomendasi terkini eksklusif untuk Gen Z dan Milenial. Tunggu apa lagi? Unduh aplikasi KUY! sekarang di Google Play Store dan App Store.

Why don't you check this?